Abilawa Perang Melawan Rajamala

- February 24, 2018
JAGAL ABILAWA, gambar gratis

 Wayang Kulit Purwa gagrak Banyumas. 
Dibandingkan dengan
gagrak Surakarta dan Yogyakarta,
yang ini rambutnya terurai lebih panjang,
sampai ke kakinya


Wayang - Jelasnya begini.
Pada waktu Abilawa bertempur melawan Rajamala, kendi wrahatnala hadir berbaur dengan para penonton. Ia mengamati jalannya peristiwa, sewaktu Kencakarupa dan Rupakencana menggotong mayat Rajamala, kemudian menceburkannya ke dalam sendang panguripan, dan Rajamala hidup kembali.

Setelah menyaksikan kejadian itu berulang kali, Kendi Wrahatnala segera menggambil anak panah pusakanya Pasopati, lalu secara diam-diam mencelupkannya diair sendang itu. Karena pengaruh kesaktian Pasopati, ketika beberapa waktu kemudian mayat Rajamala diceburkan ke sendang itu mayat itu segera melepuh dan hancur menjadi bubur.

Melihat hal itu Kencakarupa dan Rupakenca marah dan mengamuk. Namun mereka berdua segera dibunuh oleh Abilawa. Kematian ketiga senapati andalan Kerajaan Wirata itu dimanfaatkan oleh para Kurawa yang berkuasa atas
Kerajaan Astina. Atas hasutan Patih Sengkuni, penguasa Astina itu mengajak raja Trigarta bernama Prabu Susarma untuk bersama-sama menyerbu Wi rata.

Serbuan tidak terduga itu membuat prajurit Wi rata yang dipimpin oleh para putra Prabu Matswapati
kewalahan. Bahkan raja Wirata sempat ditawan Prabu Susarma dari Kerajaan Trigarta. ***)

Melihat hal ini, Bima dan adik-adiknya, masih tetap dalam keadaan menyamar, segera membantu prajurit Wirata menahan para penyerbu. Bima dan Arjuna berhasil membebaskan Prabu Matswapati dan mengusir tentara Trigarta dan Astina. Nakula dan Sadewa juga membantu pasukan Wirata membendung serangan prajurit sekutu Astina dan Trigarta. Para Kurawa yang menyaksikan sepak terjang Jagal Abilawa yang bertubuh tinggi besar dalam pertempuran segera mengenali bahwa sesungguhnya Abilawa adalah Bima. Mereka lalu menuntut agar para Pandawa menjalani hukuman pembuangan lagi selama 12 tahun. Namun para pinisepuh (tetua) Astina, yakni Begawan Drona dan Resi Bisma menyatakan bahwa pada hari itu, Pandawa sudah genap setahun bersembunyi dan menyamar. Sesuai dengan perjanjian, Pandawa bebas dari penambahan hukuman. 

Pada pedalangan gagrak Jawatimuran, Jagal Abi lawa yang di daerah itu lebih populer dengan sebutan Balawa, dikisahkan lebih dramatik. Agar penyamarannya sempuma, Balawa dan keempat saudaranya selama berada di Wirata sengaja tidak mempedulikan perawatan tubuhnya. Sebagian dalang di Jawa Timur bahkan mengatakan Balawa tidak pernah mandi, tidak pemah bersisir, sehingga rambutnya menjadi gimbal, lengket satu sarna lain.

ABILAWA, Wayang Kulit Purwa gagrak Jawatimuran,
digambarkan berambut gimbal dengan daun-daun
dan ranting tersangkut di rambutnya
Menurut Kitab Mahabarata, nama samaran Bima ketika bersembunyi di Wirata adalah Balawa atau Walala, dan bekerja sebagai juru masak sekaligus pemotong hewan. Sedangkan nama senapati Wirata yang dibunuh Balawa adalah Kincaka, karena Kincaka berbuat kurang sopan pada Dewi Drupadi yang waktu itu menyamar dengan nama Malini, atau Sairandri, atau Sairindri, atau Syarindri. Ia menjadi pelayan pribadi permaisuri raja Wirata. Sebagai senapati, Kincaka yang menaruh hati pada Sairindri - yakin bahwa Sairindri mudah untuk diajak berolah-asmara. Tetapi Sairindri ternyata menolak. Pelayan istana itu mengatakan, ia bersuami seorang gandarwa. Jika Kincaka menginginkannya, maka senapati Wirata itu harus lebih dulu membunuh gandarwa itu. Kincaka minta dipertemukan dengan sang Gandarwa, yang tak lain adalah Balawa. Maka matilah Kincaka di tangan Balawa. Nama Rajamala dan Rupakenca tidak disebut-sebut dalam Mahabarata. 


Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa, baik gagrak surakarta maupun yogyakarta, tokoh Jagal Abilawa diwujudkan mirip dengan Bratasena, yakni Bima dikala muda, tetapi dengan rambut lebih terurai. Sementara itu pada seni kriya wayang kulit purwa gagrak Jawatimuran, rambut Jagal Abilawa yang di daerah ini di sebut Balawa, sudah menjadi rambut gimbal karena tidak terurus. Rambut gimbal itu bukan hanya terurai ke punggung, tetapi juga menutupi dadanya. Dedaunan dan ranting pohon melekat pada rambut itu. 

Demikian sekilas cerita tantang Jagal Abilawa.

CATATAN KAKI: ••• )
"Sebagian dalang menyebutkan, Prabu Matswapati tidak pernah tertawan, bahkan dengan bantuan Bima dan Arjuna bisa memukul mundur pasukan Kerajaan Trigarta. Sementara itu Kerajaan Trigarta, oleh sebagian dalang juga disebut Trigata.


Add your message to every single people do comment here
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search